‹ Semua renungan

Sabtu, 21 Juni 2031

Menabur Lalu Tidur

Petani yang menabur benih tidak lalu duduk menunggui tanahnya semalaman dengan cemas. Ia menabur, menyiram, lalu tidur. Ada bagian yang memang bukan urusannya. Matahari, hujan, dan pertumbuhan diserahkannya kepada langit. Orang Jawa menyebut sikap itu nrima ing pandum, menerima dengan lapang apa yang menjadi bagian dari Tuhan.

Yesus mengajarkan kepercayaan semacam itu dengan menunjuk ke luar jendela. “Pandanglah burung-burung di langit,” kata-Nya, yang tidak menabur dan tidak menuai, namun diberi makan. “Perhatikanlah bunga bakung di ladang,” yang tidak memintal, namun berpakaian melebihi Salomo. Kalau rumput yang hari ini ada dan besok dibuang saja didandani Allah sedemikian rupa, tidakkah Ia lebih memperhatikan kita?

Kekhawatiran, kata Yesus, tidak menambah sehasta pun pada hidup kita. Ia hanya memindahkan beban hari esok ke hari ini. “Carilah dahulu Kerajaan Allah,” maka yang lain ditambahkan.

Hari ini Gereja mengenang Aloisius Gonzaga, seorang bangsawan muda yang melepaskan gelar, kekayaan, dan masa depan gemilang untuk melayani orang sakit. Ia mati muda, tertular saat merawat korban wabah. Dari luar, hidupnya tampak boros. Tetapi ia sudah lebih dulu belajar tidak khawatir tentang apa yang dilepaskannya, karena hatinya sudah menaruh harta di tempat yang benar.

Kita tidak diminta bermalas-malas. Burung tetap mencari, bunga tetap tumbuh. Kita diminta bekerja tanpa dicekik cemas, menabur lalu berani tidur.

Tuhan, ajarilah aku menerima bagian dari tangan-Mu dengan lapang, dan mencari dahulu Kerajaan-Mu tanpa dikuasai kekhawatiran. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →