Minggu, 22 Juni 2031
Setiap Hari
Ada dua macam pengetahuan tentang seseorang. Yang pertama pengetahuan dari kejauhan: kita tahu namanya, pekerjaannya, apa kata orang tentangnya. Yang kedua pengetahuan dari dekat: kita tahu suaranya saat lelah, caranya diam saat kecewa. Yang pertama bisa dihafal. Yang kedua hanya lahir dari kebersamaan.
Yesus menuntut kedua-duanya dalam Injil hari ini. Ketika sedang berdoa seorang diri, Ia bertanya kepada murid-murid, “Kata orang banyak, siapakah Aku ini?” Jawabannya beragam, kabar dari kejauhan: Yohanes Pembaptis, Elia, salah seorang nabi. Lalu pertanyaan itu menukik jadi pribadi: “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Petrus menjawab, “Mesias dari Allah.”
Tetapi Yesus tidak berhenti pada jawaban yang benar. Segera Ia meluruskan bayangan tentang Mesias yang mungkin ada di kepala mereka. Anak Manusia, kata-Nya, harus menderita, ditolak, dibunuh, dan bangkit pada hari ketiga. Mesias yang mereka akui ternyata Mesias yang menuju salib. Mengenal nama-Nya dengan benar tidak cukup; harus mengenal jalan-Nya.
Lalu datang kalimat yang membuat pengakuan itu berbiaya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari.” Perhatikan dua kata kecil: setiap hari. Salib di sini bukan penderitaan besar yang datang sekali seumur hidup, melainkan pengingkaran diri yang kecil-kecil, yang diulang saban pagi. Mengalah ketika ingin menang. Melayani ketika ingin dilayani. Justru karena kecil dan berulang, salib harian itu sering lebih berat daripada satu pengorbanan besar yang heroik; ia menuntut kesetiaan, bukan sekadar keberanian sesaat. Di situlah iman diuji, bukan di puncak, melainkan di rutinitas.
Nabi Zakharia dalam bacaan pertama sudah melihat jauh ke depan: “Mereka akan memandang kepada dia yang telah mereka tikam.” Salib bukan kecelakaan dalam rencana Allah; ia sumber yang membasuh. Dan Paulus menambahkan, di dalam Kristus tidak ada lagi Yahudi atau Yunani, hamba atau merdeka; kita semua satu, sebab ditebus oleh salib yang sama.
Pertanyaan Yesus tidak pernah menjadi kuno. Ia diajukan lagi kepada kita hari ini, bukan di ruang ujian, melainkan di doa yang sunyi. Bukan apa kata orang tentang Yesus, melainkan menurut kamu, siapakah Aku. Dan jawaban yang sesungguhnya bukan diucapkan dengan mulut, melainkan dengan salib kecil yang kita panggul hari ini.
Tuhan, ajarilah aku bukan hanya mengakui nama-Mu, melainkan memanggul salib kecilku setiap hari dan mengikut-Mu. Amin.