Senin, 23 Juni 2031
Alamat Menyusul
Ada usia ketika orang biasanya berhenti memulai hal baru. Rumah sudah mapan, kebun sudah menghasilkan, nama sudah dikenal tetangga. Wajar kalau ingin menikmati saja. Abram justru dipanggil pergi tepat pada usia seperti itu, tujuh puluh lima tahun, saat kebanyakan orang berpikir untuk menetap.
Firman kepadanya singkat dan berat: “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu.” Perhatikan, Allah tidak menyebutkan nama negeri tujuan. Abram diminta berangkat lebih dulu, alamatnya menyusul. Ia harus melangkah percaya, bukan karena sudah melihat, melainkan karena sudah mendengar.
Yang menarik, janji itu tidak berhenti pada Abram. “Engkau akan menjadi berkat,” kata Tuhan, “dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.” Ia diberkati bukan untuk ditimbun sendiri, melainkan untuk dialirkan. Berkat yang sejati selalu menembus keluar dari orang yang menerimanya.
Dalam Injil, Yesus menyentil kebiasaan yang justru menghambat berkat itu mengalir: menghakimi. Kita begitu tajam melihat selumbar di mata saudara, dan buta terhadap balok di mata sendiri. Orang yang sibuk menilai orang lain jarang punya kaki yang ringan untuk berangkat ke mana pun.
Mungkin panggilan hari ini sederhana. Tinggalkan satu kebiasaan lama yang nyaman, entah menghakimi, entah menetap dalam zona aman, dan berangkatlah percaya bahwa Tuhan menunjukkan jalannya sambil kita melangkah.
Tuhan, berilah aku hati Abram, yang berani berangkat hanya karena mendengar suara-Mu, dan jadikanlah aku berkat bagi sesama. Amin.