Selasa, 24 Juni 2031
Disebut Sejak Kandungan
Di banyak keluarga, nama anak sudah diperdebatkan jauh sebelum ia lahir. Ada yang menurut nama kakek, ada yang menurut hari kelahiran, ada yang menurut harapan orang tua. Nama adalah titipan pertama yang kita terima, sebelum kita bisa berkata apa-apa.
Maka tetangga dan sanak saudara Elisabet merasa berhak ikut menentukan. Anak itu, kata mereka, tentu dinamai Zakharia, menurut nama bapanya. Begitulah adat. Tetapi Elisabet menolak, “Jangan, ia harus dinamai Yohanes.” Mereka heran, sebab tak ada seorang pun di antara kerabat yang bernama demikian. Ketika Zakharia yang bisu meminta batu tulis dan menuliskan Namanya adalah Yohanes, seketika lidahnya terlepas dan ia memuji Allah.
Nama itu bukan pilihan keluarga. Ia turun dari langit, sudah ditetapkan malaikat sebelum anak itu dikandung. Dan artinya pun sebuah kabar: Yohanes berarti Tuhan berkenan memberi rahmat. Seluruh hidup anak itu sudah dirangkum dalam namanya, sebelum ia sempat berbuat apa-apa.
Bacaan pertama memperdalam kejutan itu. Melalui Nabi Yesaya, sang hamba berkata, “TUHAN telah memanggil aku sejak dari kandungan, telah menyebut namaku sejak dari perut ibuku.” Panggilan Allah selalu mendahului kita. Sebelum kita cukup umur untuk memilih, sebelum kita layak atau tidak layak, Ia sudah menyebut nama kita dan menyiapkan tugas.
Yohanes lalu tumbuh besar dan tinggal di padang gurun sampai saatnya menampakkan diri. Bertahun-tahun ia disembunyikan, dipersiapkan dalam sunyi, jauh dari sorotan. Padang gurun mengajarkannya bahwa suara yang paling berpengaruh justru ditempa dalam kesepian yang paling sepi. Dunia sekarang menghargai yang cepat tampil dan ramai; kisah Yohanes justru memuji yang lama tersembunyi dan matang perlahan. Rasul Paulus dalam bacaan kedua meringkas peran itu: ia datang lebih dulu, menyerukan pertobatan, lalu dengan rendah hati mundur, “Aku bukanlah Dia yang kamu sangka.” Seluruh kebesarannya adalah menunjuk kepada Yang lebih besar.
Ada penghiburan dalam kisah ini bagi kita yang sering merasa hidupnya belum jelas arahnya. Nama kita pun sudah disebut Allah lebih dulu. Tugas kita bukanlah mengarang sendiri makna hidup dari nol, melainkan menemukan panggilan yang sudah dititipkan-Nya sejak semula, lalu seperti Yohanes, cukup rela menjadi penunjuk jalan bagi orang lain menuju Kristus.
Tuhan, Engkau menyebut namaku sejak dari kandungan. Tolong aku menemukan panggilan-Mu dan rela menunjuk kepada-Mu, bukan kepada diriku. Amin.