Minggu, 29 Juni 2031
Dibangun dari yang Pernah Retak
Kalau kita ditugasi memilih dua orang untuk menjadi tiang sebuah bangunan besar, kita pasti mencari yang paling kokoh, paling tanpa cela. Allah memilih sebaliknya. Dua orang yang hari ini dirayakan bersama, Petrus dan Paulus, keduanya punya catatan yang memalukan. Petrus pernah menyangkal Yesus tiga kali di depan api unggun. Paulus pernah memburu dan menyeret orang-orang Kristen ke penjara.
Dari bahan seperti itulah Gereja dibangun. Dalam Injil, Yesus bertanya siapakah diri-Nya menurut para murid, dan Petrus menjawab, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup.” Lalu Yesus berkata, “Engkau adalah Petrus, dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku.” Nama Petrus memang berarti batu karang. Tetapi kita tahu batu ini pernah retak. Rupanya Allah mampu mendirikan rumah-Nya di atas batu yang pernah pecah, asal batu itu mengaku dan kembali.
Bacaan pertama melukis Petrus di titik paling tak berdaya: terbelenggu dua rantai, tidur di antara dua prajurit, menunggu hukuman mati. Lalu malaikat datang, dan rantai itu gugur dari tangannya. Petrus yang lemah tidak menyelamatkan dirinya sendiri; ia diselamatkan. Seluruh hidupnya adalah kisah tentang orang yang berkali-kali jatuh, lalu berkali-kali dibangunkan.
Paulus menutup hidupnya dengan nada berbeda. Dari penjara menjelang kematiannya, ia menulis dengan tenang, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.” Bukan kesombongan, melainkan syukur seorang pelari yang tahu ia disokong sampai ujung. “Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku,” katanya.
Dua watak yang jauh berbeda. Petrus si nelayan yang meledak-ledak, Paulus si terpelajar yang keras. Tetapi keduanya bertemu pada satu titik: hidup yang tadinya bisa berakhir sia-sia, diubah oleh belas kasihan menjadi berguna. Keduanya pun berakhir sama, mati sebagai martir di Roma, memberikan seluruh yang tersisa.
Pesta hari ini menghibur kita yang merasa terlalu banyak cela untuk dipakai Tuhan. Kalau penyangkal dan pemburu bisa menjadi tiang Gereja, tidak ada masa lalu yang terlalu gelap untuk ditebus. Gereja memang tidak dibangun di atas orang-orang tanpa cacat, melainkan di atas orang-orang yang celanya sudah diampuni dan diubah menjadi kesaksian yang justru menghidupkan banyak orang lain.
Tuhan, dari orang-orang yang pernah jatuh Engkau membangun Gereja-Mu. Pakailah juga aku, dengan segala celaku, untuk menopang sesama. Amin.