‹ Semua renungan

Senin, 30 Juni 2031

Berani Menawar bagi Orang Lain

Ada seni menawar yang dikuasai ibu-ibu di pasar. Kadang mereka menawar bukan untuk diri sendiri, melainkan untuk tetangga yang menitip. Ada keberanian sekaligus kerendahan hati di dalamnya.

Bacaan pertama hari ini memperlihatkan Abraham melakukan sesuatu yang mirip, tetapi taruhannya nyawa satu kota. Ia berdiri di hadapan Tuhan dan mulai menawar bagi Sodom. Bagaimana kalau ada lima puluh orang benar di sana? Empat puluh lima? Empat puluh? Ia turun terus sampai sepuluh. Yang mengharukan bukan angkanya, melainkan keberaniannya berbicara untuk orang lain, bahkan untuk kota yang bukan keluarganya sendiri.

Perhatikan caranya. Ia tidak menuntut. Berkali-kali ia berkata, “Sesungguhnya aku telah memberanikan diri berkata kepada Tuhan, walaupun aku debu dan abu.” Ia tahu persis siapa dirinya di hadapan Allah, dan justru dari kesadaran itu lahir keberanian mendoakan orang lain. Doa syafaat yang sejati selalu memakai dua kaki: berani mendesak, tetapi rendah hati mengaku diri debu.

Dalam Injil, Yesus mengingatkan bahwa mengikut Dia bukan jalan yang nyaman. “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Orang yang hidup untuk orang lain memang sering kehilangan kenyamanan sendiri.

Adakah nama yang perlu kita bawa hari ini di hadapan Tuhan? Barangkali satu orang atau satu keluarga sedang menunggu ada yang berani berdoa bagi mereka.

Tuhan, berilah aku keberanian Abraham untuk mendoakan orang lain, dengan hati yang tahu diri hanyalah debu dan abu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →