‹ Semua renungan

Rabu, 9 Juli 2031

Menangis di Balik Pintu

Ada tangis yang tidak boleh kelihatan. Orang menahannya di depan banyak orang, lalu mencari sudut sepi untuk menumpahkannya. Bukan karena malu menangis, melainkan karena belum waktunya semua tahu isi hatinya.

Yusuf, yang dulu dijual saudara-saudaranya, kini menjadi penguasa lumbung Mesir. Ketika kelaparan memaksa mereka datang membeli gandum, mereka sujud di hadapannya tanpa mengenali siapa dia. Tetapi Yusuf mengenali mereka seketika.

Ia bisa saja langsung membalas. Ia justru "berlaku seolah-olah ia seorang asing", bahkan membentak. Namun ketika mendengar mereka menyesali dosa lama terhadapnya, Injil mencatat: "Yusuf mengundurkan diri dari mereka, lalu menangis." Ia keluar, menangis diam-diam, baru kembali dengan wajah tenang.

Tangis itu bukan tangis dendam. Itu tangis kasih yang sedang bergulat dengan luka lama. Pengampunan besar jarang lahir sekaligus. Ia matang perlahan, kadang di balik pintu, jauh dari mata orang.

Kita pun kerap begitu terhadap orang yang pernah menyakiti kita. Hati ingin mengampuni, tetapi luka belum sembuh benar. Maka kita bergumul, menangis diam-diam, dan pelan-pelan melunak.

Jangan buru-buru menghakimi diri karena belum bisa langsung tersenyum kepada yang melukai. Yusuf pun perlu menyingkir dulu untuk menangis, sebelum akhirnya memeluk.

Tuhan, di balik pintu hatiku ada tangis dan luka lama. Matangkanlah pengampunan di sana, sampai aku sanggup memeluk mereka yang pernah menyakitiku. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →