Minggu, 13 Juli 2031
Sedekat Orang di Pinggir Jalan
Kita sering membayangkan bahwa mengasihi Tuhan itu perkara yang jauh dan tinggi, sesuatu yang perlu dicari ke tempat suci, dipelajari dari kitab tebal, dinaiki seperti gunung. Seakan firman Allah tersimpan di suatu tempat yang sukar dijangkau.
Musa membantah anggapan itu jauh-jauh hari. "Perintah ini tidaklah terlalu sukar bagimu dan tidak pula terlalu jauh. Tidak di langit tempatnya, juga tidak di seberang laut. Tetapi firman ini sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, untuk dilakukan." Perhatikan tiga kata terakhir: untuk dilakukan. Firman itu dekat bukan supaya diperdebatkan, melainkan supaya dikerjakan.
Injil hari ini memperlihatkan apa jadinya ketika firman yang dekat itu dijauhkan dengan pertanyaan. Seorang ahli Taurat, orang yang hafal hukum, bertanya untuk mencobai: "Dan siapakah sesamaku manusia?" Ia menjadikan kasih sebagai bahan diskusi, mencari batas siapa yang wajib ditolong dan siapa yang tidak.
Yesus menjawab bukan dengan definisi, melainkan dengan cerita. Seorang tergeletak di pinggir jalan turun ke Yerikho, dirampok dan setengah mati. Seorang imam lewat, menyingkir ke seberang jalan. Seorang Lewi lewat, berbuat sama. Keduanya orang rohani, keduanya sibuk dengan urusan bait. Lalu datang seorang Samaria, orang yang justru dipandang rendah, dan "tergeraklah hatinya oleh belas kasihan."
Ia tidak bertanya lebih dulu apakah orang itu layak ditolong, sesuku atau tidak, seiman atau tidak. Ia turun, membalut luka, menuang minyak dan anggur, menaikkannya ke keledainya, membawanya ke penginapan, bahkan membayar di muka. Kasih yang dekat selalu berupa kata kerja: turun, membalut, membawa, membayar.
Di sinilah kedua bacaan bertemu. Firman itu sedekat orang yang tergeletak di jalan kita hari ini. Bukan di langit, bukan di seberang laut, melainkan di depan mata: tetangga yang kesusahan, rekan yang jatuh, orang asing yang membutuhkan. Kita tidak perlu naik ke mana-mana untuk menemukan ladang kasih. Ia sudah terkapar di tepi rute harian kita.
Pertanyaan ahli Taurat tadi diputar oleh Yesus. Bukan "siapa sesamaku", melainkan "siapa yang menjadi sesama bagi orang yang membutuhkan". Sesama bukan kategori untuk dihitung, melainkan sikap untuk dipilih.
Maka penutup Yesus terasa seperti gema Musa: "Pergilah, dan perbuatlah demikian." Bukan pahamilah, bukan diskusikanlah. Perbuatlah. Sebab firman-Nya sudah sangat dekat, tinggal dilakukan.
Tuhan, dekatkanlah firman-Mu bukan hanya ke mulut dan pikiranku, melainkan ke tanganku. Berilah aku hati yang tergerak dan kaki yang mau menyeberang jalan bagi sesama yang membutuhkan. Amin.