‹ Semua renungan

Sabtu, 12 Juli 2031

Aku Bukan Pengganti Allah

Sering baru sesudah orang tua meninggal, luka lama antar saudara muncul ke permukaan. Selama ada ayah atau ibu, semua ditahan. Begitu mereka tiada, kekhawatiran menyeruak: sekarang siapa yang menengahi, apakah dendam lama akan dibalas?

Persis itu yang dirasakan saudara-saudara Yusuf. Sesudah Yakub, ayah mereka, mati, mereka ketakutan: "Boleh jadi Yusuf akan mendendam kita." Mereka bahkan datang menawarkan diri menjadi budaknya.

Tetapi Yusuf menangis mendengarnya, lalu berkata dengan lembut: "Janganlah takut, sebab aku inikah pengganti Allah?" Ia menolak duduk di kursi hakim yang bukan haknya. Membalas atau tidak membalas, menghukum atau mengampuni, semua itu urusan Allah, bukan dirinya.

Di situlah letak kebebasannya. Orang yang merasa harus menjadi hakim atas orang lain akan terus dibebani dendam. Orang yang menyerahkan penghakiman kepada Allah bisa legowo, lapang dada, bahkan sanggup berkata: "Aku akan menanggung makanmu dan makan anak-anakmu."

Yusuf melihat lebih jauh: "Kamu telah mereka-rekakan yang jahat, tetapi Allah mereka-rekakannya untuk kebaikan."

Adakah kursi hakim yang diam-diam kita duduki atas seseorang? Turunlah dari sana. Itu bukan kursi kita.

Tuhan, aku bukan pengganti-Mu. Ambillah dari tanganku hak menghakimi dan membalas, dan berilah aku hati yang lapang untuk mengampuni. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →