Selasa, 15 Juli 2031
Terlalu Cepat, dengan Tangan Sendiri
Kemarin kita mendengar Firaun menindas Israel dan memerintahkan membuang bayi laki-laki ke sungai Nil. Hari ini salah satu bayi itu, yang dahulu diselamatkan dari air, sudah tumbuh dewasa: Musa.
Melihat saudara sebangsanya dipukul orang Mesir, hati Musa terbakar. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada yang melihat, lalu membunuh orang Mesir itu dan menyembunyikan mayatnya dalam pasir. Niatnya membela yang tertindas. Tetapi caranya diam-diam, dengan tangannya sendiri, dan pada waktu yang ia tentukan sendiri.
Hasilnya bukan pembebasan, melainkan pelarian. Perbuatannya ketahuan, ia ditolak bahkan oleh bangsanya sendiri, dan ia harus kabur ke Midian. Empat puluh tahun lamanya ia menggembala kambing sebelum Tuhan memanggilnya di semak duri.
Panggilan Musa benar: membebaskan Israel. Tetapi ia mendahului waktu Allah dan mengandalkan kekuatannya sendiri. Ada jarak panjang antara merasa terpanggil dan siap diutus, dan jarak itu bernama kesabaran.
Kita pun bisa begitu. Bersemangat memperbaiki keadaan, lalu bertindak tergesa dengan cara sendiri, dan berakhir membuat kekacauan baru. Semangat yang benar tetap perlu menunggu perintah yang benar.
Adakah "orang Mesir" yang ingin kita bereskan hari ini dengan tangan sendiri, padahal Tuhan belum menyuruh?
Tuhan, tundukkanlah semangatku yang sering mendahului waktu-Mu. Ajarilah aku menunggu utusan-Mu, bukan bertindak dengan tanganku sendiri. Amin.