‹ Semua renungan

Rabu, 16 Juli 2031

Semak Duri yang Menyala

Dari semua tumbuhan, semak duri termasuk yang paling tidak berharga. Ia tidak berbuah, tidak rindang, tidak dipakai membangun. Di padang, ia hanya dianggap pengganggu, paling-paling jadi kayu bakar.

Justru semak seperti itulah yang dipilih Allah untuk menampakkan diri kepada Musa. Bukan pohon aras yang megah, bukan cemara yang tinggi. Sebuah semak duri biasa, yang menyala tetapi tidak habis dimakan api. Musa sampai menyimpang dari jalannya: "Mengapakah tidak terbakar semak duri itu?"

Dan dari semak rendah itu terdengar suara yang mengubah sejarah: "Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa umat-Ku keluar." Musa gentar: "Siapakah aku ini?" Jawaban Allah tidak menyanjung kehebatan Musa. Ia hanya berkata, "Bukankah Aku akan menyertai engkau?"

Injil hari ini menegaskan pola yang sama. Yesus bersyukur karena Bapa menyembunyikan misteri dari orang bijak dan pandai, tetapi menyatakannya kepada orang kecil. Allah memang gemar memakai yang dipandang remeh: semak duri, gembala buronan, nelayan tak sekolah.

Kalau kita merasa terlalu biasa untuk dipakai Tuhan, kabar hari ini justru menghibur. Bukan kehebatan kita yang membuat sesuatu kudus, melainkan kehadiran-Nya. Semak duri pun bisa menyala oleh api ilahi.

Maukah kita menyediakan diri, sesederhana apa pun kita?

Tuhan, aku hanya semak duri biasa. Nyalakanlah aku dengan hadirat-Mu, dan pakailah kerendahanku untuk kemuliaan-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →