Jumat, 18 Juli 2031
Tanda di Ambang Pintu
Pintu rumah menyimpan banyak arti bagi kita. Di sanalah tamu disambut dan diantar pulang. Ada rumah yang menggantung tulisan doa di atas pintunya, ada yang menaruh tanda kecil, sebagai pengingat siapa penghuni dan siapa pelindungnya.
Pada malam pertama Paskah, ambang pintu menjadi penentu hidup dan mati. Setiap keluarga Israel diperintahkan menyembelih anak domba dan membubuhkan darahnya pada kedua tiang dan ambang atas pintu. "Apabila Aku melihat darah itu, maka Aku akan lewat dari pada kamu."
Kata Paskah sendiri berakar pada arti "melewati", "melangkahi". Malam itu Allah melewati rumah-rumah yang bertanda darah. Keselamatan datang bukan karena penghuninya lebih hebat, melainkan karena pintu mereka ditandai.
Dan tanda itu harus kelihatan dari luar, di ambang, bukan disimpan dalam hati saja. Iman memang punya tanda yang nyata: cara kita menyambut orang di pintu, cara sebuah rumah berdoa, kebiasaan-kebiasaan kecil yang menunjukkan siapa Tuhan yang kita percaya.
Bagi kita, darah anak domba itu menunjuk kepada Kristus, Anak Domba yang menandai kita dengan darah-Nya sendiri.
Sudahkah ambang pintu hidup kita menyandang tanda itu, sehingga siapa pun yang lewat tahu rumah ini milik Tuhan?
Tuhan, tandailah pintu hidupku dengan darah Anak Domba-Mu. Jadikanlah rumahku tempat yang dari ambangnya pun orang mengenali Engkau. Amin.