Senin, 21 Juli 2031
Diam, tapi Melangkah
Ada saat dalam hidup ketika kita merasa benar-benar terjepit. Di depan jalan buntu, di belakang kejaran yang tak bisa dihindari. Seperti orang yang berdiri di tepi tebing sementara bahaya mendekat dari satu-satunya arah keluar.
Itulah posisi Israel di tepi laut. Di depan air yang menghadang, di belakang pasukan Firaun yang mengejar dengan enam ratus kereta. Mereka panik dan menyesali diri: lebih baik dulu tetap jadi budak daripada mati di padang gurun.
Musa menjawab dengan kalimat yang menenangkan: "Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN. TUHAN akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja." Diam saja. Berhenti berlari dalam kepanikan, dan biarkan Tuhan bekerja.
Tetapi menariknya, jawaban Tuhan kepada Musa justru berbunyi lain: "Mengapakah engkau berseru-seru demikian kepada-Ku? Katakanlah kepada orang Israel, supaya mereka berangkat." Di satu sisi diam, di sisi lain melangkah.
Rupanya iman bukan sekadar pasif menunggu, juga bukan sekadar sibuk berusaha. Iman adalah tenang di dalam, bergerak di luar. Hati yang percaya bahwa Tuhan berperang, kaki yang tetap melangkah ke arah yang Ia tunjuk, bahkan ketika laut belum terbelah.
Sedang terjepit hari ini? Tenangkanlah hatimu, lalu ambil langkah pertama. Laut sering baru terbuka setelah kaki mulai berjalan.
Tuhan, di tengah jepitan, berilah aku hati yang tenang karena Engkau berperang, dan kaki yang berani melangkah karena Engkau menuntun. Amin.