Rabu, 23 Juli 2031
Penabur yang Boros
Seorang petani yang hemat akan berhati-hati menaruh benih. Ia tidak akan menabur di jalan setapak yang keras, di tanah berbatu, atau di antara semak duri. Sayang, benih itu mahal. Ia hanya akan menanam di petak yang sudah pasti subur.
Tetapi penabur dalam perumpamaan Yesus hari ini bukan petani perhitungan. Ia menabur ke mana-mana: ke pinggir jalan, ke tanah berbatu, ke semak duri, juga ke tanah yang baik. Seolah tangannya tidak tega memilih-milih, dan benih ditebar begitu murah hati ke segala arah.
Sering perumpamaan ini kita baca dari sisi tanahnya: hati yang keras, dangkal, atau penuh kekuatiran. Itu benar dan perlu. Tetapi jangan lewatkan sosok penaburnya. Ia gambaran Allah yang menabur firman dan kasih-Nya dengan boros, bahkan ke tanah yang belum tentu menyambut.
Allah tidak menunggu kita menjadi tanah sempurna dulu baru menabur. Ia menabur lebih dahulu, terus-menerus, dengan kemurahan yang nyaris tampak sia-sia. Sebagian memang jatuh dan hilang. Tetapi yang jatuh di tanah baik berbuah seratus kali lipat, dan itu sudah lebih dari cukup menutup semua yang terbuang.
Kalau Allah saja begitu murah menabur kebaikan, mengapa kita begitu perhitungan? Kita sering menahan pujian, menahan pertolongan, menahan pengampunan, takut jatuh pada orang yang salah.
Hari ini, kepada tanah keras mana kita masih enggan menabur kebaikan?
Tuhan, Penabur yang murah hati, ajarilah aku menabur kebaikan tanpa terlalu berhitung. Biarlah sebagian terbuang, asal ada yang berbuah bagi-Mu. Amin.