Sabtu, 26 Juli 2031
Menanam untuk Panen yang Tak Kita Lihat
Orang tua di desa sering menanam pohon yang buahnya tidak akan sempat mereka nikmati. Pohon kelapa, durian, jati. Mereka tahu itu, dan tetap menanam. "Biar cucu yang menikmati," katanya. Menanam untuk panen yang tak akan kita lihat sendiri adalah salah satu bentuk kasih yang paling murni.
Hari ini Gereja mengenang Santo Yoakim dan Santa Anna, orang tua Maria, kakek dan nenek Yesus. Mereka menanam iman dalam diri seorang anak perempuan, tanpa pernah tahu betapa besar buah yang kelak tumbuh darinya. Mereka menabur, generasi berikutnya yang menuai.
Injil hari ini pun berbicara tentang menabur dan menunggu. Tuan ladang menyuruh membiarkan gandum dan lalang tumbuh bersama sampai musim menuai, sebab panen ada waktunya sendiri, dan waktu itu bukan di tangan kita. Penabur yang baik harus rela menunggu lama, bahkan mungkin melampaui usianya.
Di bacaan pertama, Musa memeteraikan perjanjian dengan darah dan bangsa itu berjanji, "Segala firman TUHAN akan kami lakukan." Perjanjian itu diteruskan turun-temurun, dari satu generasi yang setia kepada generasi berikutnya, sampai kepada kita hari ini.
Iman yang kita miliki sekarang adalah panen dari benih yang ditanam tangan-tangan yang sudah lama tiada: orang tua, kakek nenek, guru-guru pertama.
Benih apa yang sedang kita tanam hari ini, untuk panen yang mungkin baru dituai cucu kita?
Tuhan, terima kasih untuk mereka yang menanam iman jauh sebelum aku ada. Jadikanlah aku penabur yang setia bagi generasi yang belum kulihat. Amin.