‹ Semua renungan

Minggu, 2 November 2031

Tidak Ditolak di Pintu

Ada satu hal yang membuat rumah tetap disebut rumah: pintunya tidak pernah menolak orang yang pulang. Selarut apa pun, sekusut apa pun keadaannya, anak yang mengetuk tetap dibukakan. Ibu bahkan sering menyiapkan masakan kesukaan orang yang ditunggu, seolah kepulangannya sudah pasti.

Hari ini Gereja berdoa bagi arwah semua orang beriman, dan Yesus dalam Injil membuka isi hati Bapa dengan janji yang berbunyi seperti pintu rumah itu: barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang. Perhatikan, tidak ada saringan di sana. Bukan barangsiapa yang pantas, bukan barangsiapa yang catatannya bersih. Barangsiapa datang. Titik.

Kita menyimpan banyak ketakutan tentang orang yang telah mendahului kita. Apakah mereka diterima? Apakah dosa-dosa mereka menutup pintu itu? Justru untuk ketakutan inilah Gereja berdoa hari ini. Doa bagi orang mati adalah kasih yang menolak berhenti di ambang kubur, dan sekaligus kepercayaan bahwa pintu itu memang tidak dikunci.

Paulus memberi alasannya kepada jemaat Roma. Kristus telah mati untuk kita ketika kita masih berdosa, bukan setelah kita rapi dan layak. Kalau kasih sebesar itu diberikan waktu kita masih menjadi seteru, masakan kasih itu ditarik kembali justru setelah kita mati? Karena itu, kata Paulus, pengharapan tidak mengecewakan.

Ayub, dari atas timbunan debu dan dengan tubuh penuh luka, sudah lebih dulu mengucapkannya: aku tahu, Penebusku hidup. Ia tidak berkata aku berharap, atau barangkali. Ia berkata aku tahu. Iman berani sepasti itu karena yang dijanjikan bukan sebuah tempat, melainkan Pribadi yang menunggu di pintu.

Maka doa dan ziarah kita hari ini bukan perjalanan ke masa lalu. Ia latihan pengharapan. Sebutlah nama-nama itu pelan-pelan di hadapan Tuhan, satu per satu. Tidak ada satu pun yang jatuh ke ruang kosong. Semuanya diketuk pada pintu yang tidak pernah menolak orang pulang.

Karena itu doa bagi arwah tidak pernah sia-sia. Ada kalanya orang yang kita kasihi pergi dengan urusan yang belum selesai, dengan luka yang belum sembuh, dengan dosa yang belum sempat dibereskan. Doa kita hari ini seperti tangan yang menuntun mereka melewati sisa perjalanan itu, sampai sungguh bersih dan siap memandang wajah Allah. Inilah yang diajarkan Gereja tentang api penyucian: bukan tempat keputusasaan, melainkan ruang tunggu kasih, tempat rahmat merampungkan apa yang belum sempat dirampungkan di dunia.

Tuhan, terimalah saudara-saudari kami yang telah mendahului kami. Bukalah bagi mereka pintu yang tak pernah Kaututup, dan sambutlah mereka dalam terang wajah-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →