‹ Semua renungan

Senin, 3 November 2031

Papan Peringkat Surga

Setiap akhir tahun selalu muncul daftar. Orang paling kaya. Tokoh paling berpengaruh. Perusahaan paling untung. Dunia gemar menyusun papan peringkat, dan diam-diam kita ikut mengukur diri dengan daftar itu: ada di mana aku, kalau semua orang diurutkan?

Di atas sebuah bukit, Yesus juga membacakan sebuah daftar. Tetapi urutannya membuat dahi berkerut. Berbahagialah yang miskin di hadapan Allah. Berbahagialah yang berdukacita. Yang lemah lembut. Yang lapar dan haus akan kebenaran. Yang murah hati. Yang membawa damai. Yang dianiaya. Tidak satu pun nama besar. Tidak satu pun kategori yang biasa masuk majalah.

Kemarin kita merenungkan barisan tak terhitung para kudus. Hari ini Yesus seakan menunjukkan pintu masuknya, dan pintu itu justru berada di tempat yang tidak diperebutkan orang. Siapa yang berlomba menjadi paling berdukacita? Siapa yang bercita-cita paling lemah lembut? Justru di sanalah Kerajaan Sorga dibuka.

Ucapan bahagia ini bukan perintah yang berat, melainkan sebuah potret. Kalau kita cari wajah di baliknya, yang muncul bukan pahlawan di panggung, melainkan orang-orang yang kita jumpai sehari-hari. Orang yang menangisi dosanya sendiri. Orang yang mengalah demi kerukunan. Orang yang tetap haus akan kebenaran meski di sekitarnya kebohongan lebih laku.

Yesus menutup dengan kalimat yang aneh untuk telinga pemburu peringkat: bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga. Rupanya ada papan peringkat yang lain, yang perhitungannya terbalik dari milik dunia, dan yang tidak diumumkan setiap akhir tahun.

Pertanyaannya hari ini: daftar mana yang sedang kukejar? Yang membuatku terlihat di mata banyak orang, atau yang membuatku bahagia di mata Allah? Sebab dua daftar itu jarang sekali sama isinya.

Ada satu hal lagi yang mudah terlewat. Yesus tidak berkata berbahagialah kalau kelak kamu masuk surga. Ia berkata berbahagialah, sekarang, dalam keadaan yang justru kelihatan malang. Kebahagiaan yang Ia tawarkan bukan hadiah yang ditunda sampai mati, melainkan sesuatu yang sudah mulai terasa hari ini, di tengah air mata dan kesabaran. Orang yang lemah lembut sudah mencicipi damai yang tidak dimiliki orang yang selalu ingin menang. Orang yang murah hati sudah merasakan lega yang tidak dikenal orang yang menggenggam erat.

Inilah rahasia para kudus yang kemarin kita rayakan. Mereka tidak menunggu bahagia sampai di seberang. Mereka sudah bahagia di jalan, karena tahu ke mana jalan itu menuju.

Tuhan, lepaskanlah aku dari keharusan menjadi nomor satu di mata dunia. Ajarilah aku bahagia dengan cara-Mu, sebab hanya daftar-Mu yang bertahan sampai kekal. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →