‹ Semua renungan

Senin, 10 November 2031

Kerikil di Jalan Orang

Di jalan setapak yang ramai dilewati orang, sebuah batu kecil bisa mencelakakan banyak kaki. Yang menaruhnya mungkin tidak sengaja, tetapi yang tersandung bisa siapa saja, termasuk yang berjalan paling hati-hati.

Yesus memakai gambaran ini dengan nada yang jarang sekeras itu. Tidak mungkin tidak akan ada penyesatan, kata-Nya, tetapi celakalah orang yang mengadakannya. Lebih baik sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia dilemparkan ke laut, daripada menyesatkan salah satu orang kecil ini. Kata yang dipakai dalam bahasa aslinya adalah skandalon, yang berarti batu sandungan, pemicu jerat. Dari sanalah lahir kata skandal yang kita kenal.

Menyesatkan orang lain memang jarang berupa niat besar. Lebih sering ia berupa kerikil kecil: kata sinis yang membuat orang muda kehilangan hormat pada iman, contoh buruk yang ditiru anak-anak, sikap yang menjatuhkan orang yang imannya masih rapuh.

Tetapi Yesus tidak berhenti pada peringatan. Ia langsung menyambung dengan jalan keluarnya: jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah, dan jikalau ia menyesal, ampunilah, bahkan sampai tujuh kali sehari. Menyingkirkan kerikil dari jalan sesama itu namanya pengampunan.

Santo Leo Agung menjaga umatnya justru dengan menyingkirkan batu-batu sandungan ajaran keliru pada zamannya. Kita pun dipanggil untuk hal yang lebih sederhana: memeriksa, adakah kerikil yang tanpa sadar kutaruh di jalan orang lain?

Tuhan, jauhkanlah aku dari menjadi batu sandungan bagi sesama. Berilah aku hati yang cepat menegor dengan lembut dan cepat mengampuni. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →