Minggu, 16 November 2031
Cangkul Tetap di Tangan
Setiap kali muncul ramalan tentang akhir dunia, selalu ada saja orang yang bereaksi berlebihan. Ada yang menjual segala miliknya, berhenti bekerja, lalu duduk menunggu langit terbelah. Ternyata gejala ini setua Gereja sendiri.
Di Tesalonika, sebagian umat begitu yakin Tuhan segera datang sampai mereka berhenti bekerja. Paulus menegur dengan kalimat yang tegas, bahkan terdengar keras: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan. Ia sendiri memberi teladan, tidak makan roti orang dengan percuma, tetapi berjerih payah siang malam. Rupanya, menanti kedatangan Tuhan bukan alasan untuk melepaskan cangkul dari tangan.
Injil hari ini menjelaskan mengapa. Orang-orang sedang mengagumi Bait Allah, bangunan yang dihiasi batu indah dan berbagai persembahan. Yesus justru berkata, akan datang harinya tidak ada satu batu pun dibiarkan terletak di atas batu yang lain. Semuanya akan diruntuhkan. Murid-murid panik dan bertanya, kapan dan apa tandanya. Tetapi Yesus tidak memberi mereka jadwal. Ia malah berkata: waspadalah, jangan disesatkan; jangan terkejut mendengar perang dan bencana; semua itu belum berarti kesudahannya.
Inilah kabar penting dari Minggu menjelang akhir tahun liturgi. Kristus tidak pernah memberi kita tanggal kiamat. Ia memberi kita tugas. Ketika orang lain sibuk menghitung hari dan ketakutan, murid Kristus tetap menanam, tetap bekerja, tetap setia dalam perkara kecil di hadapannya.
Bahkan penganiayaan pun, kata Yesus, akan menjadi kesempatan untuk bersaksi. Jangan cemas menyiapkan pembelaan, sebab Aku sendiri akan memberikan kata-kata hikmat. Lalu janji yang menenangkan itu: tidak sehelai pun dari rambut kepalamu akan hilang. Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu.
Maleakhi menambahkan gambaran yang indah. Bagi orang fasik, hari itu menyala seperti perapian. Tetapi bagi kamu yang takut akan nama-Ku, akan terbit surya kebenaran dengan kesembuhan pada sayapnya. Hari yang sama, dua wajah yang berbeda, tergantung bagaimana kita menantinya.
Maka pertanyaannya bukan kapan dunia berakhir. Pertanyaannya, kalau hari itu tiba justru sore ini, sedang mengerjakan apa aku ingin ditemukan Tuhan? Sebaiknya sedang memegang cangkul, bukan sedang menghitung hari dengan tangan kosong.
Kesetiaan yang kecil dan sehari-hari itulah bentuk paling nyata dari berjaga-jaga. Bukan mata yang terus menatap langit menunggu tanda, melainkan tangan yang terus bekerja dan hati yang terus mengasihi, apa pun yang terjadi esok hari.
Tuhan, jauhkanlah aku dari ketakutan yang melumpuhkan. Biarlah Engkau menemukanku sedang setia bekerja dan bersaksi, sampai terbit surya kebenaran-Mu. Amin.