Rabu, 26 November 2031
Tulisan di Dinding
Kemarin Yesus berbicara tentang bangunan megah yang akan runtuh. Hari ini Bacaan Pertama memperlihatkan kejatuhan sebuah kerajaan besar hanya dalam satu malam.
Raja Belsyazar sedang berpesta pora bersama seribu pembesarnya. Untuk menambah kesombongan, ia menyuruh mengambil perkakas suci yang dirampas dari Bait Allah di Yerusalem, lalu meminum darinya sambil memuji dewa-dewa dari emas dan perak. Di tengah kemabukan itu, tiba-tiba muncul jari-jari tangan menulis di dinding istana. Raja pucat pasi, lututnya berantukan.
Daniel dipanggil membaca tulisan itu: mene, tekel, ufarsin. Maknanya menggetarkan. Mene: masa pemerintahanmu telah dihitung dan diakhiri. Tekel: engkau ditimbang dengan neraca dan didapati terlalu ringan. Malam itu juga kerajaan Belsyazar berakhir.
Ada kalimat yang paling menusuk di situ: ditimbang, dan didapati terlalu ringan. Belsyazar punya segalanya, kuasa, kekayaan, pesta. Tetapi ketika ditimbang dengan neraca yang benar, semua itu ternyata ringan, tidak berbobot, kosong. Ia lupa memuliakan Allah yang menggenggam napasnya sendiri.
Injil hari ini menawarkan bobot yang lain. Yesus berkata, penganiayaan akan menjadi kesempatan untuk bersaksi, dan kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu. Kesetiaan itulah yang membuat hidup berbobot di neraca Allah.
Seandainya hidupku ditimbang malam ini, apa yang membuatnya berat: harta dan gengsi yang kukejar, atau kesetiaan kepada Tuhan?
Tuhan, jangan biarkan hidupku ringan dan kosong di hadapan-Mu. Isilah timbanganku dengan kesetiaan dan kasih, bukan dengan kesombongan yang akan berlalu. Amin.