Kamis, 11 Desember 2031
Dari Cacing Jadi Pengirik
Ada julukan yang menyakitkan bila diucapkan orang lain, tetapi menyembuhkan bila diucapkan oleh yang mengasihi kita. Yesaya memakai julukan yang terdengar kasar, "hai si cacing Yakub, hai si ulat Israel." Cacing. Makhluk yang terinjak tanpa sengaja, tak berdaya, tak diperhitungkan.
Tetapi kalimat itu tidak berhenti di situ. "Akulah yang menolong engkau, demikianlah firman TUHAN." Julukan itu diucapkan justru sebagai pengantar sebuah janji. Dan janjinya mengejutkan, "Aku membuat engkau menjadi papan pengirik yang tajam dan baru, dengan gigi dua jajar; engkau akan mengirik gunung-gunung."
Dari cacing menjadi pengirik. Dari yang terinjak menjadi yang menghancurkan gunung. Perubahan itu tidak masuk akal bila kita mengandalkan cacing itu memperbaiki dirinya sendiri. Cacing tak bisa berlatih menjadi alat besi. Yang mengubahnya adalah tangan yang memegang tangan kanannya.
Inilah pola yang berulang dalam Kitab Suci. Allah gemar memilih yang paling lemah untuk pekerjaan yang paling besar. Bukan karena Ia hemat, melainkan supaya jelas siapa yang sebenarnya bekerja. Kalau cacing bisa mengirik gunung, orang tahu itu bukan kehebatan cacing.
Barangkali hari ini kita merasa seperti cacing itu: kecil, terinjak, tak berguna. Dengarkan lagi kepada siapa julukan itu ditujukan. Bukan untuk mempermalukan, melainkan untuk menunjukkan sejauh mana Tuhan sanggup mengubah. Sing cilik ing ngarsané Gusti bisa dadi gedhé.
Tuhan, Engkau memegang tangan kananku ketika aku merasa serupa cacing. Ubahlah kelemahanku menjadi alat di tangan-Mu. Amin.