‹ Semua renungan

Jumat, 12 Desember 2031

Andai Saja

Ada dua kata yang paling sering diucapkan dengan mata menerawang: andai saja. Andai saja dulu aku menabung. Andai saja dulu aku menjaga kesehatan. Andai saja dulu aku tidak mengucapkan kalimat yang melukai itu. Penyesalan selalu datang terlambat, ketika akibatnya sudah tak bisa ditarik pulang.

Melalui Yesaya, Allah sendiri seolah ikut mengucapkan andai saja. "Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintah-Ku, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering." Ada nada sedih di situ, kesedihan seorang bapa yang melihat anaknya memilih jalan yang menyakiti diri sendiri.

Perhatikan bahwa perintah Allah di sini bukan digambarkan sebagai beban, melainkan sebagai jalan menuju sungai yang tak pernah kering. "Akulah TUHAN, Allahmu, yang mengajar engkau tentang apa yang memberi faedah." Perintah-Nya bukan pagar untuk mengurung, melainkan rambu untuk menyelamatkan.

Kita sering membalik logikanya. Kita mengira ketaatan itu memiskinkan dan pembangkangan itu membebaskan. Padahal Yesaya menunjuk arah sebaliknya: damai yang seperti sungai justru mengalir dari mendengarkan.

Adven memberi kita kesempatan yang jarang: mengubah andai saja menjadi mulai sekarang. Penyesalan menatap ke belakang. Pertobatan menatap ke depan. Masih ada hari ini, masih ada perintah yang bisa diperhatikan, masih ada sungai yang bisa mengalir.

Tuhan, ubahlah penyesalanku yang menatap ke belakang menjadi langkah baru yang menatap ke depan. Ajari aku mendengar suara-Mu hari ini. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →