Selasa, 16 Desember 2031
Kepada Perempuan Itu Dahulu
Dalam banyak kisah lama, tokoh yang dianggap penting adalah para lelaki: raja, imam, panglima. Perempuan sering hanya disebut sebagai isteri si anu, tanpa nama sendiri. Karena itu, kisah kelahiran Simson menyimpan kejutan kecil yang mudah terlewat.
Malaikat Tuhan datang mewartakan kelahiran seorang penyelamat. Kepada siapa ia datang lebih dahulu? Bukan kepada Manoah, sang suami, melainkan kepada isterinya, perempuan yang bahkan tidak disebut namanya. "Malaikat TUHAN menampakkan diri kepada perempuan itu." Kepadanyalah rencana besar itu pertama kali dipercayakan.
Pola yang sama terulang dalam Injil. Zakharia, sang imam, berdiri di Bait Suci pada tempat yang paling terhormat. Namun ketika ia meragukan kabar malaikat, ia justru dibuat bisu. Sementara Elisabet, yang menanggung aib kemandulan bertahun-tahun di rumah, dialah yang menyambut mukjizat itu dengan iman.
Allah rupanya punya kebiasaan yang tak lazim. Ia sering memulai karya besar-Nya dari orang yang paling tidak diperhitungkan dunia: perempuan mandul, tak bernama, tinggal di kampung, jauh dari panggung. Bukan dari pusat kekuasaan, melainkan dari pinggir yang terlupakan.
Ini menghibur kita yang merasa hidup di pinggir. Yang merasa tak punya jabatan, tak punya nama besar, cuma menjalani hari-hari biasa tanpa disorot siapa-siapa. Justru di alamat seperti itulah kabar dari surga biasa diketuk lebih dahulu.
Tuhan, Engkau datang lebih dulu kepada yang terlupakan. Ketuklah pintu hidupku yang biasa ini, dan pakailah aku menurut kehendak-Mu. Amin.