Jumat, 19 Desember 2031
Dipinta lalu Diserahkan
Kemarin kita mendengar Elisabet menyambut Maria, dan hari ini Maria menyanyikan Magnificat. Tetapi bacaan pertama membawa kita kepada seorang ibu lain yang lebih tua, Hana, dan pada sebuah perbuatan yang sukar dimengerti.
Hana bertahun-tahun menangis memohon seorang anak. Kemandulannya adalah luka yang dalam. Ketika akhirnya Samuel lahir, ia menggenggam jawaban dari doa yang paling ia perjuangkan. Namun begitu anak itu disapih, ia justru mengantarnya ke rumah Tuhan di Silo dan berkata, "aku menyerahkannya kepada TUHAN; seumur hidup terserahlah ia kiranya kepada TUHAN."
Bayangkan beratnya. Bertahun-tahun meminta, lalu setelah dikabulkan, mengembalikannya. Bukankah lebih wajar menggenggamnya erat-erat, takut kehilangan lagi? Tetapi Hana mengerti sesuatu yang sering kita lupa: anak itu memang tak pernah menjadi miliknya. Ia hanya dititipkan.
Setiap orang tua akhirnya belajar hal yang sama, walau lewat jalan lebih pelan. Anak tumbuh, lalu pergi. Merantau, kuliah, menikah, meniti hidupnya sendiri. Ada saat kita harus membuka genggaman dan menyerahkan mereka kembali kepada Yang meminjamkannya.
Magnificat Maria lahir dari roh yang sama. "Jiwaku memuliakan Tuhan." Ia pun akan menyerahkan Putranya, sampai ke kaki salib. Menyanyi memuji Allah dan melepaskan apa yang paling dikasihi ternyata bisa berjalan bersama.
Tuhan, ajari aku membuka genggaman atas apa yang kukasihi, dan menyerahkannya kembali kepada-Mu dengan syukur, bukan dengan ketakutan. Amin.