Sabtu, 20 Desember 2031
Sabun Tukang Penatu
Siapa yang pernah mencuci baju bernoda membandel tahu bahwa ada dua cara. Ada noda yang cukup direndam sebentar lalu hilang. Ada noda yang harus dikucek keras, digosok berulang dengan sabun, sampai tangan pegal. Bersih itu kadang butuh gesekan.
Maleakhi memakai dua gambaran untuk kedatangan Tuhan. "Ia seperti api tukang pemurni logam dan seperti sabun tukang penatu." Api melebur emas, sabun mengucek kain. Keduanya membersihkan, tetapi tidak dengan membelai. Ada panas, ada gesekan.
Kita gemar membayangkan kedatangan Tuhan hanya sebagai pelukan yang hangat. Dan memang benar Ia datang penuh kasih. Tetapi kasih yang sungguh tidak membiarkan noda tetap tinggal. Seperti ibu yang mengucek baju anaknya bukan karena benci, melainkan karena ingin anaknya bersih, demikian Tuhan menggosok apa yang kotor dalam diri kita.
Gesekan itu kadang terasa tak nyaman. Sebuah teguran yang menohok, sebuah kegagalan yang merendahkan, sebuah masa sulit yang memaksa kita jujur pada diri sendiri. Kita mengira Tuhan sedang menjauh, padahal Ia sedang mengucek.
Di ujung bacaan, mulut Zakharia yang lama terkunci akhirnya terbuka, dan kata pertamanya adalah pujian. Rupanya proses yang berat pun bermuara pada nyanyian. Sabun tukang penatu tidak bekerja untuk melukai kain, melainkan untuk mengembalikan warnanya yang asli.
Tuhan, bila Engkau mengucek yang kotor dalam diriku, tolong aku mengerti bahwa itu kasih, bukan amarah. Kembalikan aku pada warna asliku. Amin.