‹ Semua renungan

Minggu, 21 Desember 2031

Siapa Membangun untuk Siapa

Ada niat baik yang begitu tulus sampai kita lupa bertanya, apakah ini yang sungguh diinginkan orang yang hendak kita beri. Kita membelikan hadiah mahal untuk orang tua, padahal yang mereka mau hanya kita pulang lebih sering. Kita membangun sesuatu yang megah, padahal yang diminta jauh lebih sederhana.

Raja Daud menyimpan niat yang mulia. Ia sudah menetap di istana dari kayu aras, nyaman dan kokoh. Lalu ia merasa tidak enak hati, "aku ini diam dalam rumah dari kayu aras, padahal tabut Allah diam di bawah tenda." Ia hendak membangun rumah, sebuah bait yang megah, bagi Tuhan. Sebuah niat yang tampak sangat saleh.

Tetapi malam itu firman datang kepada Nabi Natan, dan isinya membalik segalanya. Allah seolah berkata, siapa bilang Aku butuh rumah darimu? "Masakan engkau yang mendirikan rumah bagi-Ku untuk Kudiami?" Lalu datang pembalikan yang menakjubkan. Bukan Daud yang akan membangun rumah bagi Allah, melainkan Allah yang akan membangun rumah bagi Daud. "TUHAN akan memberikan keturunan kepadamu."

Kata rumah di sini bergeser artinya. Daud memikirkan rumah dari batu dan kayu. Allah menjanjikan rumah dari daging dan darah, sebuah dinasti, sebuah garis keturunan yang tak akan berkesudahan. "Keluarga dan kerajaanmu akan kokoh untuk selama-lamanya."

Inilah pola yang terus berulang dalam hubungan kita dengan Allah. Kita datang hendak memberi kepada-Nya, dan pulang dengan tangan yang justru lebih penuh. Kita menyangka menjadi penderma, ternyata kita yang diberi. Sebab pada akhirnya, apa yang bisa kita bangun bagi Sang Pembangun segala sesuatu?

Injil hari ini menggenapi janji itu. Zakharia bernubuat tentang tanduk keselamatan bagi kita di dalam keturunan Daud. Rumah yang dijanjikan kepada Daud ribuan tahun sebelumnya kini hampir tiba, dalam wujud seorang bayi yang akan lahir dari garis itu. Allah menepati janji-Nya bukan dengan tergesa, melainkan dengan kesabaran yang membentang berabad.

Di ambang Natal, ada baiknya kita memeriksa niat kita sendiri. Kita sibuk menyiapkan banyak hal untuk Tuhan: kegiatan, perayaan, persembahan. Semua itu baik. Tetapi jangan sampai kita lupa bahwa Dialah yang lebih dulu, dan lebih banyak, membangun untuk kita. Yang paling Ia inginkan barangkali bukan bangunan megah dari kita, melainkan hati yang mau Ia diami.

Tuhan, aku datang hendak memberi, dan Engkau justru memberi lebih banyak. Bangunlah rumah-Mu dalam hatiku, dan biarlah aku cukup rendah hati untuk menerima. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →