‹ Semua renungan

Senin, 22 Desember 2031

Siapakah Aku, Dikunjungi

Bayangkan orang yang paling kita hormati tiba-tiba muncul di depan pintu rumah kita yang sederhana. Tanpa pemberitahuan, tanpa waktu berbenah. Reaksi pertama biasanya bukan bangga, melainkan sungkan. Aduh, kenapa repot-repot datang ke tempat sekecil ini?

Persis itulah yang meluncur dari mulut Elisabet ketika Maria mengunjunginya. Ia tidak menyombongkan diri bahwa sanaknya yang istimewa datang. Ia justru berseru heran, "Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?"

Elisabet sedang mengandung mukjizat, sudah tua, penuh Roh Kudus. Kalau ada yang boleh merasa layak dikunjungi, dialah orangnya. Namun ia tak merasa layak. Kunjungan itu ia terima bukan sebagai haknya, melainkan sebagai anugerah yang melampaui dirinya.

Inilah tanda hati yang benar di hadapan Allah. Bukan menghitung diri pantas, melainkan terheran-heran bahwa Ia sudi datang. Adven mendekat ke puncaknya, dan sebentar lagi Sang Tuhan akan mengunjungi bukan hanya rumah Elisabet, melainkan seluruh bumi yang sederhana ini.

Pertanyaan Elisabet layak menjadi pertanyaan kita menjelang Natal. Siapakah aku ini, sampai Allah sendiri mau turun ke tempat sekecil hidupku? Bukan karena aku pantas, melainkan karena Ia memang gemar mengunjungi yang merasa tak pantas. Dan sikap yang paling tepat menyambut-Nya adalah takjub yang rendah hati, bukan dada yang membusung.

Tuhan, siapakah aku ini sampai Engkau sudi datang kepadaku? Ajari aku menyambut-Mu dengan takjub yang rendah hati, bukan dengan merasa layak. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →