Rabu, 24 Desember 2031
Lidah yang Kembali
Hari ini malam Natal, malam ketika dunia menahan napas menunggu. Dan bacaan Injil memberi kita gambar yang pas untuk penantian yang hampir usai: seorang bapak yang berbulan-bulan tak bisa bicara, tiba-tiba lidahnya kembali.
Zakharia dibuat bisu karena meragukan kabar malaikat. Sembilan bulan ia hidup dalam sunyi, tak sanggup mengucap sepatah kata pun. Bayangkan betapa panjang bisu itu: tak bisa menenangkan isterinya dengan kata, tak bisa berdoa dengan suara, hanya bisa menulis di batu tulis.
Lalu tibalah hari kelahiran anaknya. Ketika ia menuliskan namanya adalah Yohanes, saat itu juga "terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah." Perhatikan apa yang keluar pertama sesudah sekian lama membisu. Bukan keluhan, bukan cerita betapa berat masa sunyinya. Yang pertama keluar adalah pujian.
Ada masa dalam hidup kita ketika seolah Tuhan membisukan kita. Doa terasa tak terjawab, langit terasa tertutup, kata-kata seakan sia-sia. Kisah Zakharia berbisik bahwa sunyi itu tidak selamanya. Ada hari ketika lidah kembali, dan yang terbaik adalah bila kembalinya lidah itu dipakai untuk memuji.
Malam ini, Firman yang kekal sendiri bersiap masuk ke dunia yang lama menanti. Sebentar lagi, kesunyian panjang umat manusia akan dipecahkan oleh tangis seorang bayi di Betlehem.
Tuhan, dalam masa sunyi ketika aku merasa dibisukan, kuatkan aku menanti. Dan ketika lidahku kembali, jadikan pujian sebagai kata pertamaku. Amin.