‹ Semua renungan

Jumat, 26 Desember 2031

Yang Menjaga Jubah

Di setiap peristiwa besar, ada tokoh utama yang disorot dan ada sosok kecil di pinggir yang nyaris tak diperhatikan. Dalam kisah kematian Stefanus, martir pertama, mata kita tertuju pada wajahnya yang bercahaya, pada doanya yang mengampuni. Tetapi ada satu kalimat kecil yang mudah terlewat.

"Saksi-saksi meletakkan jubah mereka di depan kaki seorang muda yang bernama Saulus." Seorang muda, menjaga tumpukan jubah orang yang sedang melempari batu. Namanya Saulus. Ia belum jadi siapa-siapa, hanya penjaga pakaian yang menyetujui pembunuhan.

Kita tahu kelanjutannya. Saulus muda itu kelak menjadi Paulus, rasul terbesar yang membawa Injil sampai ke ujung kekaisaran. Dan bagaimana benih pertobatannya ditanam? Salah satunya di hari itu, ketika ia menyaksikan seorang martir mati sambil mengampuni para pembunuhnya. Doa Stefanus, "janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka", pasti termasuk menanggung Saulus yang berdiri di situ.

Sehari sesudah Natal, Gereja sengaja menaruh kisah darah ini. Seakan hendak berkata bahwa bayi yang lahir kemarin datang ke dunia yang keras, dunia tempat kesaksian bisa berujung pada batu. Tetapi juga dunia tempat kematian seorang saksi bisa menjadi benih iman seorang penganiaya.

Kita tak pernah tahu siapa yang sedang menjaga jubah di pinggir hidup kita, memperhatikan cara kita menanggung penderitaan. Bisa jadi kesaksian kita yang paling sunyi sedang menanam sesuatu di hati yang tak kita duga.

Tuhan, seperti Stefanus, berilah aku kekuatan untuk mengampuni bahkan yang melukai. Pakailah kesaksianku menanam benih di hati yang tak kukenal. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →