Minggu, 12 Oktober 2031
Yang Kembali Hanya Satu
Ada dua kata dalam bahasa kita yang diajarkan paling awal dan dilupakan paling sering: terima kasih. Coba perhatikan susunannya. Menerima, lalu mengasih. Orang yang sadar telah menerima semestinya tergerak memberi kasih. Orang Jawa mengucapkannya matur nuwun, sering sambil menangkupkan tangan. Bahasa kita rupanya tahu: syukur bukan basa-basi, melainkan gerakan hati yang berbalik arah.
Injil hari ini bercerita tentang sepuluh orang kusta. Mereka berteriak dari jauh, sebab hukum mengharuskan mereka menjauh: 'Yesus, Guru, kasihanilah kami!' Yesus menyuruh mereka pergi kepada para imam, dan di tengah jalan mereka menjadi tahir. Sepuluh orang sembuh. Yang kembali untuk berterima kasih hanya satu. Dan yang satu itu, kata Lukas dengan sengaja, orang Samaria, orang asing.
Ke mana yang sembilan? Barangkali mereka tidak jahat. Mereka hanya sibuk. Sibuk memeluk keluarga yang bertahun-tahun tak boleh disentuh, sibuk mengurus surat tahir, sibuk merancang hidup baru. Kesembuhan itu cepat terasa wajar, lalu terasa hak. Bukankah kita persis begitu? Waktu sakit, doa kita rajin. Waktu sembuh, Tuhan kita tinggalkan di tengah jalan.
Minggu lalu Yesus mengajar kita berkata, 'Kami hanyalah hamba yang melakukan tugas kami.' Hari ini sisi satunya: Allah tidak pernah memperlakukan kita sebagai hamba yang tak berguna. Ia menyembuhkan, memulihkan, mengembalikan hidup. Naaman dalam bacaan pertama memahaminya. Panglima besar Aram itu, sesudah tubuhnya pulih di sungai Yordan, kembali kepada Elisa dan meminta tanah Israel semuatan sepasang bagal, supaya di negerinya pun ia dapat menyembah Tuhan yang sama. Kesembuhannya berubah menjadi ibadah seumur hidup. Itulah terima kasih dalam bentuknya yang paling penuh: menerima, lalu mengasih, lalu menyembah.
Kepada orang Samaria yang tersungkur itu Yesus berkata, 'Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.' Sepuluh orang tahir, tetapi hanya satu yang disebut selamat. Rupanya ada kesembuhan yang lebih dalam daripada kulit yang pulih, dan pintunya adalah syukur.
Paulus, yang menulis dari dalam belenggu pada bacaan kedua, memegang rahasia yang sama: 'Jika kita tidak setia, Dia tetap setia.' Orang yang yakin akan kesetiaan Allah tidak akan kehabisan alasan untuk bersyukur, bahkan di penjara sekalipun.
Hari ini, sebelum meminta apa-apa, cobalah menghitung dulu: dari sepuluh berkat yang kuterima pekan ini, untuk berapa aku sudah kembali dan berkata terima kasih?
Tuhan Yesus, jangan biarkan aku pulang membawa kesembuhan tanpa membawa syukur. Jadikan seluruh hidupku ucapan terima kasih kepada-Mu. Amin.