Minggu, 30 November 2031
Awal Tahun yang Sunyi
Tahun baru biasanya dirayakan dengan gegap gempita. Kembang api, terompet, hitungan mundur, sorak-sorai tepat tengah malam. Tetapi hari ini, tanpa banyak orang menyadarinya, Gereja memulai tahun barunya. Dan awalnya justru sunyi. Tidak ada kembang api. Yang ada hanya lilin ungu pertama dan satu kata: menanti.
Hari ini Minggu Adven Pertama. Kata adventus dari bahasa Latin berarti kedatangan. Maka tahun baru Gereja tidak dibuka dengan perayaan atas apa yang sudah kita capai, melainkan dengan penantian akan Dia yang akan datang. Sebuah awal yang rendah hati: kita memulai bukan dengan berkata lihatlah pencapaianku, melainkan dengan berkata datanglah, ya Tuhan.
Injil hari ini melukiskan penantian itu dengan latar yang justru mencekam. Akan ada tanda-tanda pada matahari, bulan, dan bintang; bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru laut; orang akan mati ketakutan. Gambaran yang gelap. Tetapi di tengah kegelapan itu, Yesus mengucapkan kalimat yang mengubah segalanya: apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat.
Perhatikan betapa berlawanan sikap ini dengan naluri kita. Ketika keadaan menakutkan, kita cenderung menunduk, menutup wajah, menciut. Tetapi orang Adven diminta melakukan sebaliknya: mengangkat muka. Sebab bagi orang beriman, tanda-tanda yang menakutkan itu bukan pertanda kiamat yang menghabisi, melainkan pertanda Penyelamat yang mendekat.
Nabi Yeremia sudah lama menyalakan pengharapan ini. Di tengah bangsa yang hancur dan kota yang runtuh, ia bernubuat: akan datang waktunya Aku menumbuhkan Tunas keadilan bagi Daud, dan negeri akan hidup dengan tenteram. Dari tunggul yang tampak mati, Allah menjanjikan tunas baru. Itulah pola kerja-Nya: memulai hidup baru justru dari tempat yang kelihatan tamat.
Lalu bagaimana kita menanti? Paulus memberi jawabannya kepada jemaat Tesalonika: kiranya Tuhan menjadikan kamu bertambah-tambah dan berkelimpahan dalam kasih seorang terhadap yang lain. Menanti kedatangan Tuhan bukan berarti duduk diam menatap langit. Ia berarti bertumbuh dalam kasih sambil menanti, supaya hati kita tak bercacat dan kudus ketika Ia datang.
Maka Adven mengajak kita memulai lagi dari awal, dengan rendah hati dan penuh harap. Di tengah tahun yang sering terasa gelap, beranikah aku mengangkat muka, sebab yang datang bukan kehancuran, melainkan Penyelamat?
Tuhan, pada awal tahun yang sunyi ini, ajarilah aku menanti dengan mengangkat muka. Tumbuhkanlah dalam diriku Tunas keadilan-Mu, dan jadikanlah aku berkelimpahan dalam kasih sampai Engkau datang. Amin.